Menjadi Single
Pernah merhatiin KTP Indonesia? Disitu biasanya tertulis status: Kawin/Belum Kawin. Saya biasanya suka tersinggung. Status saya ’TIDAK’ kawin bukan ‘BELUM’ kawin. Gimana kalo ternyata soulmate saya itu nggak ada dan saya nggak bakalan kawin seumur hidup. Atau mungkin potensial soulmate saya banyak dan saya memilih untuk tidak berkomitmen dengan satu pria seumur hidup. Lagipula, sejak kapan urusan kawin dipelihara negara? Bukankah itu hanya untuk [maaf] fakir miskin dan anak terlantar?
“Hus, jangan bilang gitu. Pamali!” Ibu saya ngomel-ngomel kalo saya bilang saya nggak mau kawin dulu. Harap dicatat bahwa definisi ‘Kawin’ yang saya maksud mengacu pada peresmian status suami-istri yang legal dan ada dokumen gono-gini nya. Jadi ingat, dulu impian saya adalah merit di umur 24. Jika melihat perempuan berumur di atas 30 belum merit, rasanya gimanaaa gitu. Guess what.. I am almost 30!
Kadang ada gak enaknya sih. Misal, orang yang sudah berkeluarga, pasti dapet banyak kompensasi dari kantor. Boleh pilih-pilih waktu cuti yang fleksibel ngikutin jadwal libur anak, boleh pulang kantor tepat waktu, boleh bolos 2 – 3 hari karena anak sakit, boleh dapet benefit yang lebih, banyak pokoknya. Sementara menjadi single seperti saya babak belur dikantor. Pulang kantor larut, nyampe di rumah masih juga ditelponin malem-malem, cuti nggak bisa pilih-pilih. Giliran have fun dikit dibilang hedonis! Sepertinya saya menyandang papan nama ‘Single’ yang kemudian sering di salah artikan menjadi ‘Tong Multi Fungsi’ dimana orang dengan gegap gempita lempar-lempar kerjaan, buang-buang masalah, buang sial, kalo buang duit sih mending! Kalo belum penuh mereka nggak akan berhenti. Sudah penuh pun masih juga dicekokin sampe muntah-muntah. Talking about SENSIBLE work and life balance… Yea right! Non sense!
Tapi sisi baiknya, saya bisa ngapain aja. Nggak mesti repot ngurusin keluarga. Weekend bisa ngelayap kemana aja, terus paginya bisa bangun jam berapa aja. Banyak teman saya yang sudah berkeluarga. Beberapa malah sudah punya bayi. Rata-rata bilang, punya bayi itu amazing! Sepertinya berkah, bikin hidup lebih hidup. Tapi pas ditanya, repot nggak? Lalu rata-rata teman saya ini menunduk dan mengiyakan pasrah. Hamil itu merepotkan, badan gembrot, mual-mual, pusing, mood swing, and guess what? You have to do it for 9 months plus while your husband don’t even contribute to the whole pregnancy process! (Kecuali pas proses bikin bayi… yea right!). Habis itu melahirkan itu sendiri bukanlah proses menyenangkan. Suakittttt dan kadang bisa memakan waktu berjam-jam. Again, your husband don’t contribute to the whole delivery process! Habis melahirkan sih lega, liat anak lucu dan menggemaskan. Habis itu? Malam-malam kebangun, anak nangis dan nggak jelas pengen apa… dikasih minum susu tetep nangis, digendong tetep nangis, ganti popok tetep juga nangis! Kenapa juga bayi nggak punya saklar on/off? Helloww!!!! It is so unfair. Belum lagi kalo anak sudah mulai bisa jalan, lari kesana-sini, semua diacak dan dijadiin mainan.. cuape deh! Gede dikit hobinya berantem ama temen sekolah. Kalo udah remaja was-was terlibat narkoba, smoking weed, ikutan geng motor, mabok-mabokan atau hamil sebelum waktunya. And if your husband still does not contribute to the whole “raising up the kids” thing, you better give him a good slap!
Sigh…. *(
Kebayang, begitu kali perjuangan Ibu saya juga begitu dulu. Membesarkan anak kan susah. Apa mungkin kehingar-bingar-an saya menjadi single hanyalah untuk menutupi ketidakmampuan saya untuk berkomitmen lebih (i.e berkeluarga dan punya anak)? Maybe…
Impian saya adalah jika saya memutuskan mempunyai anak, maka saya akan menikah. Urutannya begitu, bukan sebaliknya. Saya tidak mau menjadi seorang Ibu tapi kerjanya mengeluh soal popok bayi dan bangun tengah malam. Saya tidak mau stress yang kemudian saya lampiaskan pada anak yang mestinya menghabiskan masa kecil dengan kasih sayang. Saya tidak mau menyalahkan keluarga jika suatu saat nanti saya mesti berhenti berkarir atau melakukan hal yang saya senangi (Maunya saya sih bisa berkarir & berkeluarga sekaligus!). Saya mau anak saya nanti mengerti apa yang dinamakan unconditional love!
Kesimpulan? Saya masih senang dengan apa yang saya jalani hari ini. Esok lusa mungkin beda lagi. Apakah ini pembelaan saya karena menjadi single? Maybe.. :P

…jalani saja mbak, orang-orang disekitar kita selalu berpikir apa yang mereka inginkan — bukan apa yang kita butuhkan
salam kenal
Dear pimpii… setubuh! eh Setuju! Yang penting tahu apa yang kita butuhkan! Salam kenal juga..